Meriah di Tepian Kapuas, Festival Meriam Karbit Jadi Simbol Persatuan Lintas Etnis di Pontianak - Warta Global Kalbar

Mobile Menu

Top Ads

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Meriah di Tepian Kapuas, Festival Meriam Karbit Jadi Simbol Persatuan Lintas Etnis di Pontianak

Monday, 23 March 2026
BPM Sukses Gelar Meriam Karbit, Kolaborasi Budaya dan Kebersamaan Jadi Sorotan

Kalbar.WARTAGLOBAL.id
,Pontianak – Dentuman meriam karbit kembali menggema di sepanjang tepian Sungai Kapuas pada malam takbiran Idulfitri, Sabtu (21/03/2026) pukul 23.00 WIB. Tradisi khas Kota Pontianak ini berlangsung meriah meski di tengah berbagai tantangan, sekaligus menjadi simbol kuat kebersamaan dan pelestarian budaya lokal.

Sebanyak 229 meriam kayu raksasa yang tersebar di 37 titik dinyalakan secara bergantian, menciptakan suara menggelegar yang memecah malam. Meriam-meriam tersebut dibuat dari kayu mabang atau meranti dengan panjang mencapai 5–6 meter dan diameter 50–70 sentimeter, menggunakan bahan bakar karbit sebagai sumber ledakannya.

Kegiatan yang digelar oleh Barisan Pemuda Melayu (BPM) ini turut dihadiri jajaran Forkopimda Kota Pontianak, di antaranya Dandim 1207 Pontianak, Kapolresta Pontianak, Kepala Pengadilan Negeri Pontianak, serta Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Kehadiran para tokoh ini menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian budaya warisan daerah.


Ketua Umum BPM Kalimantan Barat, Gusti Eddy, menegaskan bahwa tradisi meriam karbit merupakan agenda tahunan yang sarat makna. Selain sebagai warisan budaya, kegiatan ini juga mencerminkan kekompakan anggota BPM dalam menjaga nilai-nilai lokal.

“Tradisi ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk kebersamaan. Alhamdulillah, tahun ini BPM sudah memiliki lokasi sendiri setelah sebelumnya masih meminjam. Ini berkat dukungan DPP dan kerja keras seluruh Satgas BPM,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa festival meriam karbit memiliki dampak positif bagi perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM yang biasanya meraup keuntungan dari meningkatnya jumlah pengunjung. Namun, tahun ini terjadi penurunan jumlah pengunjung dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kondisi ini dipengaruhi oleh kepanikan masyarakat akibat kelangkaan BBM dan panjangnya antrean di sejumlah SPBU di Pontianak,” jelas Gusti Eddy.

Pada tahun ini, BPM juga memutuskan untuk tidak menggelar perlombaan meriam karbit. Meski demikian, pihaknya berharap ke depan pemerintah dapat kembali mengadakan festival lomba secara resmi agar tradisi ini bisa berkembang menjadi event berskala nasional bahkan internasional.

“Kami berharap tahun depan festival ini bisa kembali dilombakan dan menjadi daya tarik wisata yang lebih besar,” harapnya.

Dalam sambutannya, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi meriam karbit sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

“Festival Rakyat Meriam Karbit adalah tradisi adat yang telah diwariskan turun-temurun. Mari kita jaga agar tidak hilang dan tetap menjadi kebanggaan masyarakat Pontianak,” ujarnya.

Acara yang berlangsung di Jalan Tanjung Raya 1, Gang Dharma Putra, Kelurahan Tambelan Sampit, Kecamatan Pontianak Timur ini juga dihadiri perwakilan masyarakat adat Dayak. Kehadiran lintas etnis ini mempertegas bahwa tradisi meriam karbit adalah simbol harmoni dan persatuan di Kota Pontianak.

Perwakilan Ormas Dayak, David Oendoen, menyampaikan apresiasinya atas undangan yang diberikan BPM. Ia menilai kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi antarorganisasi dan masyarakat.

“Kehadiran kami adalah bentuk penghormatan sekaligus komitmen untuk menjaga kebersamaan. Tradisi ini milik kita bersama dan harus terus dilestarikan,” tegasnya.

Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, dentuman meriam karbit bukan hanya menjadi penanda datangnya Hari Raya Idulfitri, tetapi juga gema persatuan masyarakat Pontianak yang kaya akan keberagaman budaya.[AZ]


Sumber:(BPM KALBAR)

Klik